This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 30 Juni 2017

Resume materi UAS III



PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH

Pendidikan anak prasekolah merupakan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak dalam keluarga dan diluar keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar yang dijalankan dijalur pendidikan sekolah.Menurut Biechler dan Snowman (1993), anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara tiga sampai enam tahun.
Masa ini merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan. Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah dan menurut Papalia Olds (1986) bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional.
Masa ini juga merupakan masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play sesuai pendapat Frank dan Theresa Caplan yang menyebutkan bahwa waktu bermain merupakan sarana pertumbuhanyang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupannya untuk tumbuh dalam lingkungan budaya dan siap dalam belajar formal. Perasaan otonomi anak juga berkembang dengan adanya kesempatan bereksplorasi diluar rumah.
Menurut Keneth Rubin dkk (1976), ada 4 jenis kegiatan bermain bebas anak masa prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial dan kognitif anak, yaitu:
 1. Bermain fungsional yaitu melakukan pengulangan gerakan otot dengan atau
     tanpa objek.
 2. Bermain konstruktif yaitu melakukan manipulasi terhadap benda-benda dalam
           kegiatan untuk mengkreasikan/mencipatakan sesuatu.
3. Bermain dramatik yaitu dengan menggunakan situasi yang imajiner.
 4. Bermain menggunakan aturan.
Dengan bermain, anak bebas beraksi dan mengkhayalkan sebuah dunia lain, sehingga dengan bermain ada elemen petualangan. Anak juga dapat bebas mengekspersikan dan mengeksplor dirinya dengan lingkungan sekitar. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain juga dapat menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain.

Tujuan
Ada beberapa tujuan dilaksanakannya pendidikan anak prasekolah ini, yakni:
1.      Melatih gerakan dan keterampilan tubuh
2.      Memelihara kesehatan dan kebugaran tubuh
3.      Berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan memberi alasan dibalik terjadinya suatu hal (peristiwa)
4.      Mengembangkan konsep diri
5.      Mengasah kelima pancaindera
6.      Mengembangkan rasa ingin tahu
Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah. Papalia Olds (1986) menyatakan bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain.
Ada pun tiga jalur pendidikan prasekolah yakni:
1.      Informal, contohnya pendidikan dalam keluarga
2.      Non formal, contohnya program Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB)
3.      Formal, contohnya Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak pada Usia Dini (PAUD)

Ciri-Ciri Anak Prasekolah
1.      Ciri Fisik
Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki peguasaan (control) terhadap tubuhnya, sangat meyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Otot-otot besar pada anak pun lebih berkembang daripada control jari dan tangan, itu sebabnya anak pada masa ini biasanya belum terampil dalam kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu. Anak juga masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang ukurannya kecil, sehingga koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak pada masa ini lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak.

2.      Ciri Sosial
a.       Tingkah laku unoccupied yaitu anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
b.      Bermain soliter yaitu anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan berbeda dengan apa yang dimainkan oleh teman yang ada di dekatnya. Mereka tidak berusaha untuk saling bicara.
c.       Tingkah laku onlooker yaitu anak menghabiskan waktu dengan mengamati. Kadang memberi komentar apa yang dimainkankan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.
d.      Bermain paralel yaitu anak bermain dengan salin berdekatan, tetapi tidak sepenhnya bermain bersama dengan anak yang lain. Mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara yang tidak saling bergantung.
e.       Bermain asosiatif yaiatu anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
f.       Bermain kooperatif yaitu anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi dan pemimpinnya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dokter dan pasien dan lain-lain. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak yang dikemukakan Piaget mengemukakan perkembangan permainan anak usia dini sebagai masa symbolic make play (berlangsung dari 2-7 tahun).

3.      Ciri Kognitif
Piaget berpendapat bahwa, anak pada rentang usia ini, masuk dalam perkembangan berpikir praoperasional konkret. Pada saat ini sifat egosentris pada anak semakin nyata. Anak mulai memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lainyang berbeda di sekitarnya. Orang tua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit karena anak menjadi susah diatur, bisa disebut nakal atau bandel, suka membantah dan banyak bertanya. Anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun egois dan tak dapat mengerti penalaran abstrak atau logika. Menurut Dewey (1960), pendidik atau orang tua harus memberikan kesempatan pada setiap anak untuk dapat melakukan sesuatu, baik secara individual maupun kelompok sehingga anak akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Adapun Gessel dan Amatruda, mengemukakan bahwa anak usia 3-4 tahun telah mulai mampu berbicara secara jelas dan berarti. Kalimat-kalimat yang diucapkan anak semakin baik, sehingga masa ini dinamakan masa perkembangan fungsi bicara. Selanjutnya, pada usia 4-5 tahun anak mulai belajar matematika.

4.    Ciri Emosional
Anak prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia ini. Iri hati pada anak usia dini ini sering terjadi. Mereka sering memperebutkan perhatian guru. Emosi yang tinggi pada umumnya disebabkan oleh masalah psikologis dibanding masalah fisiologis. Orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal, padahal anak merasa mampu melakukan lebih banyak lagi. Hurlock mengemukakan ada 6 pola emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak yaitu: amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, kasih sayang.

Resume materi UAS II



 BIMBINGAN DAN KONSELING
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. (Abu Ahmadi, 1991).
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor membantu siswa memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jadi singkatnya, bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan dengan cara bertatap muka oleh seorang konselor kepada individu (siswa) yang sedang mengalami suatu masalah dan membantu siswai memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan potensi yang ada dengan optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup , sehingga dapat dikatakan bimbingan konseling ini sangat berperan penting bagi siswa.

Fungsi Bimbingan dan Konseling
a.     Fungsi Pemahaman, yaitu membantu siswa agar memiliki pemahaman terhadap diri
 (potensinya) dan diharapkan mampu mengembangkan potensi tersebut secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
b.      Fungsi Preventif, yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah dan berupaya untuk mencegahnya. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
c.       Fungsi Pengembangan, yaitu konselor berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Konselor dan personel sekolah bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambung untuk  membantu siswa mencapai tugas-tugas perkembangannya.
d.      Fungsi Penyembuhan (Perbaikan), yaitu pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
e.       Fungsi Penyaluran, yaitu upaya membantu siswa dalm memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
f.       Fungsi Adaptasi, yaitu membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, staf, dan guru dalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah, metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan  kebutuhan siswa.
g.      Fungsi Fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan kepada siswa dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, selaras dan seimbang sesuai aspek dalam diri siswa.
h.      Fungsi Pemeliharaan, yaitu menjaga siswa agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat siswa.

Jenis Bimbingan dan Konseling Serta Tujuannya
1.      Bimbingan akademik
Bertujuan: - Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif
- Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
- Memiliki keterampilan belajar yang efektif
- Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan   belajar/pendidikan
- Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian
- Memiliki keterampilan membaca buku.

2.      Bimbingan pribadi/sosial
Bertujuan: - Mengamalkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
- Memiliki pemahaman dan respon yang positif tentang kehidupa
- Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif
- Memiliki sikap respek terhadap diri sendiri
- Dapat mengelola stress
- Mampu mengendalikan diri  dan memahami perasaan diri
- Memiliki kemampuan memecahkan masalah
- Memiliki rasa percaya diri
- Memiliki mental yang sehat

3.      Bimbingan karier
Bertujuan: - Memiliki pemahaman tentang sekolah lanjutan
- Memiliki pemahaman bahwa studi adalah investasi masa depan
- Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja
- Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir
- Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan
- Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan
- Memiliki kemauan meningkatkan kemampuan tentang pekerjaan
- Memiliki pemahaman minat dan kemampuan diri tentang pekerjaan

Asas Bimbingan dan Konseling
1.      Asas Kerahasiaan
Asas yang menuntut konselor merahasiakan data atau informasi yang diceritakan konseli (siswa) agar tidak diketahui orang lain kecuali berdasarkan persetujuan siswa yang dapat dipertanggungjawabkan.

2.      Asas Kesukarelaan
Asas yang menghendaki adanya kerelaan antara konselor dengan konseli dalam mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan.

3.      Asas Keterbukaan
Asas yang menghendaki agar konselor dan konseli bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan maupun dalam menerima berbagai informasi dari luar yang berguna bagi pengembangandirinya.

4.      Asas Kegiatan
Asas yang menghendaki agar konselor dan konseli berpartisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan dalam layanan bimbingan dan konseling.

5.      Asas Kemandirian
Asas yang mengharapkan konseli menjadi mandiri secara pribadi, sosial, belajar, dan karier, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri.

6.      Asas Kekinian
Asas yang menjadikan kondisi masa lampau dan masa depan konseli menjadi dampak terhadap hal yang akan diperbuat konseli pada saat sekarang.

7.      Asas Kedinamisan
Asas yang menghendaki agar isi layanan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dari tahap perkembangan konseli (siswa) dari waktu ke waktu.

8.      Asas Keterpaduan
Asas yang dapat saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Dalam hal ini, kerja sama atau kolaborasi dengan berbagai pihak yang terkait yang perlu dilaksanakan.

9.      Asas Kenormatifan
Asas yang menghendaki agar layanan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma yang berlaku.

10.  Asas Keahlian
Asas yang menghendaki konselor hendaknya berdasarkan kaidah profesional dalam penyelenggaraaan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik.

11.  Asas Alih Tangan Kasus
Asas yang menghendaki agar konselor yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas kiranya mengalihtangankan kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. Namun konselor juga dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain.

12.  Asas Tut Wuri Handayani
Asas yang diadopsi dari nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada konseli untuk berkembang maju sesuai dengan potensi yang dimiliki konseling.

Resume materi UAS I



PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI
 Paedadogi
       Paedagogi berasal dari bahasa Yunani yaitu paedagogia atau paedagagos yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Paedagagos terdiri dari dua kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos” yang artinya “memimpin atau membimbing”. Dalam perkembangan selanjutnya istilah paedagogi pun berubah menjadi ilmu dan seni mengajar dan belajar. Paedagogi juga merupakan kajian mengenai pengajaran di bidang pendidikan formal seperti di sekolah.
Tujuan paedagogik adalah:
Memanusiakan manusia, menjadikan seseorang dewasa demi kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.
Agar anak di kemudian hari mampu memahami dan menjalani kehidupan dan kelak dapat menghidupi diri mereka sendiri, dapat hidup secara bermakna, dan dapat turut memuliakan kehidupan.
Membantu murid mempertanyakan dan menantang dominasi serta keyakinan dan praktek-praktek yang mendominasi.
Mengembangkan kepribadian siswa yang sehat
      Dalam rangka pengembangan kemampuan dan keterampilan kepaedagogian juga perlu upaya mengembangkan etika profesi guru, dengan mengemas program yang menggamit beberapa dimensi:
a.   Penguasaan substansi pengajaran dan pembelajaran, meliputi ilmu pengetahuan, budaya,
keterampilan, nilai dan sikap dalam integrasi sekolah dan pendidikan.
b.   Penguasaan dimensi paedagogis, khususnya berkaitan dengan nilai-nilai humanistik dan
etika profesi.
c.   Penguasaan program pendidikan berbasis proses dan hasil dalam keseluruhan perilaku
     dan pekerjaan kependidikan.
d.  Penguasaan metode proses pengembangan kegiatan belajar-mengajar berdasarkan
     perspektif lintas-kurikuler secara aksiologis dengan menggunakan perangkat teknologi.

Andragogi
      Andragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu Andragagos dan terdiri dari dua kata yakni “Andra” yang berarti orang dewasa dan “agogos” berarti memimpin. Andragogi kemudian dirumuskan sebagau "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar secara informal".
Andragogi dapat disimpulkan sebagai :
1.  Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
2.  Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui 
     kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
3.  Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat
     menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.
Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa:
1.  Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-
     kegiatan
2.  Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan
     ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3.  Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang
    belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk
    memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam  waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga
    belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa
    membantu pencapaian tujuan dalam belajar.

 Perbedaan antara Paedagogi dan Andragogi
 Sebenarnya cara mengajar dan belajar antara paedagogi dengan andragogi memiliki perbedaan yang sangat jelas. Berdasarkan teori singkat andragogi adalah toeri belajar yang dikembangkan untuk kebutuhan orang dewasa. Sedangakan paedagogi adalah toeri belajar untuk anak-anak.
No
Andragogi     Paedagogi
1Pembelajar disebut “peserta didik”/ ,“warga didik”Pembelajar disebut “siswa”/ “anak didik”
2  Gaya belajar independen  , Gaya belajar dependen
3Tujuan fleksibelTujuan ditentukan sebelumnya
4Menggunakan metode pelatihan aktifMetode pelatihan pasif, seperti metode ceramah.
5Pembelajaran mempengaruhi waktu dan kecepatan, Guru mengontrol waktu dan kecepatan
6Belajar berpusat pada masalah kehidupan nyata, Belajar berpusat padaisu atau pengetahuan teoritis

Minggu, 09 April 2017

Menurut saya mata kuliah ini sangat menyenangkan karena saya cukup mudah mengerti memahami Psikologi Pendidikan. Mata kuliah ini memberikan informasi bagaimana psikologi diterapkan dalam dunia pendidikan. Saya juga termotivasi melalui mata kuliah ini saya yang nantinya sebagai seorang sarjana psikologi dapat menggunakan metode-metode belajar dalm pendidikan psikologi untuk dunia pendidikan di Indonesia. Saya juga belajar memahami karakter murid-murid di sekolah dan guru-guru yang mengajar murid-murid tersebut.Terbukti Psikologi pendidikan sangat membantu saya saat melakukan observasi tentang "Manajemen Kelas"yang mana observasi ini diberikan oleh mata kuliah ini juga.saya juga menemukan bahwa dosen yang memberikan mata kuliah ini menerapkan materi langsung dengan cara mengajat dikelas. Dimana kami akan diberikan reward untuk aktif di dalam kelas. Ini terlihat sangat efektif untuk mengajak kami belajar ,sehinggan saat dosen tidak memberikan reward lagi saya dan teman-teman dikelas terbiasa berdiskusi dan aktif dikelas.saya berharap mata kuliah ini juga dapat diinformasikan kepada guru-guru dan murid sekolah karena dapat membantu baik itu proses belajar maupun prosen mengajar. Saya rasa sekian testimoni saya. Assalamualaikum terimakasih.

Sabtu, 08 April 2017

Observasi Pendidikan di TK GETSEMANE
Topik : Manajemen Kelas
Judul : Proses interaksi antara guru dan murid didalam kelas di TK GETSEMANE
Tujuan Observasi : 1. Memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan
2. Mengetahui bagaimana proses manajemen kelas.
3. Melihat interaksi antara guru dan murid
4. Untuk mengetahui praktik pendidikan prasekolah di Indonesia.
Disusun oleh :  Peby Octora (16-085)
Reflita Dewi Daulay (16-110)
Risma Dwiyanti (16-113)
Adi Ignatius (16-119)
Wahyu Kurnia (16-124)
Tribelawaty (16-140)






BAB 1 : PERENCANAAN
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan proses tiada henti sejak manusia dilahirkan hingga akhir hayat. Bahkan banyak pendapat mengatakan bahwa pendidikan sudah dimulai sejak manusia masih berada dalam kandungan. Pastinya, proses pendidikan akan dan harus dialami dan dijalani oleh setiap manusia di setiap waktu. Masa usia dini (2-5 tahun) adalah salah satu fase pendidikan yang dijalani oleh manusia. Masa ini merupakan masa pendidikan yang lebih terfokus pada psikomotor anak serta penanaman akhlaq dan sikap hidup anak didik. Psikologi pendidikan sebagai salah satu cabang ilmu psikologi, memberikan kontribusi penting pada proses pendidikan anak usia dini. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian. Dalam postingan ini akan dipaparkan bagaimana proses pendidikan pada anak usia dini melalui hasil observasi yang telah kami lakukan di TK Getsemane. Kami melakukan penelitian psikologi pendidikan dengan melihat proses pendidikan melalui topik "Manajemen Kelas".

LANDASAN TEORI
Sejarah dan Tokoh
Piaget mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan.

Anak Prasekolah
Pengertian anak prasekolah menurut Biechler dan Snowman (1993) adalah mereka yang berusia antara tiga sampai enam tahun. Pada masa ini, anak biasanya mengikuti program pendidikan pra sekolah seperti PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini ) ataupun TK (Taman Kanak-Kanak). Teori-teori tentang perkembangan anak prasekolah dapat dibagi menjadi :
Perkembangan Kognitif (Piaget)
Tahap Pra-Operasional (usia antara 2-7 tahun) : Belum memiliki kemampuan untuk mengoperasionalkan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak, perkembangan masih bersifat egosentris.
Perkembangan Psikososial anak (Erikson)
Tahap Inisiatif (usia antara 4-6 tahun) atau Prasekolah : Anak mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam melakukan aktifitasnya. Sedang pada saat usia 3-5 tahun, Erikson berpendapat bahwa anak berada pada fase inisiatif vs rasa bersalah. Perkembangan rasa ingin tahu dan daya imaginasinya sangat besar.

Pendidikan Pra Sekolah
Pendidikan pra sekolah merupakan dasar bagi perkembangan dan pembentukan sikap, pengetahuan, keterampilan, daya cipta, dan penyesuaian dengan lingkungan social anak.
Pendidikan pra sekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik dilingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Pendidikan pra sekolah antara lain meliputi pendidikan Taman Kanak-kanak, terdapat pada jalur sekolah, kelompok bermain, dan penitipan anak di luar jalur sekolah. Taman kanak-kanak diperuntukkan untuk usia 5 dan 6 tahun, sementara kelompok bermain atau penitipan anak diperuntukkan anak paling sedikit berusia tiga tahun pendidikan.
Karakteristik Anak Pra Sekolah :
Perkembangan jasmani
Gerakan anak prasekolah lebih terkendali dan terorganisasi dalam pola-pola, seperti menegakkan tubuh dalam posisi berdiri, mampu melangkahkan kaki dengan menggerakkan tungkai dan kaki. Pada umumnya, gigi mencapai 20 buah.
Perkembangan Kognitif
Perkembangan tahap ini meliputi kemampuan merancang, mengingat, dan mencari penyelesaian masalah yang dihadapi. Perkembangan kognitif anak prasekolah termasuk kedalam pertengahan tahapan Piaget yaitu tahapan praoperasional. Setelah masuk tahap praoperasional anak-anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya.
Perkembangan Sosio-Emosional
Perkembangan social biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku didalam masyarakat. Perkembangan social diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon lingkungan terhadap anak.

Praktik pendidikan Prasekolah di Indonesia
Praktik pendidikan prasekolah di Indonesia dewasa ini sudah mulai dianggap penting oleh masyarakat. Kebanyakan orangtua saat ini, khususnya orangtua yang berkarir, memasukkan anak mereka untuk mengikuti proses pembelajaran di PAUD maupun TK sembarang mengisi kegiatan si anak. Proses pendidikan sendiri mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu secara khusus dan perkembangan bahasa serta kemampuan kognitif secara umum. Pendidikan hendaknya diberikan sejak dini agar upaya dan keterampilan dapat berkembang secara optimal. Pada saat ini praktik pendidikan prasekolah telah banyak didirikan oleh berbagai lembaga di Indonesia dengan menggunakan standar nasional maupun Internasional. Disamping itu, banyak juga lembaga pendidikan prasekolah di Indonesia yang mengadopsi kurikulum Negara luar, kurikulum tersebut mengacu pada model pembelajaran seperti pembelajaran aktif, pembelajaran proyek, pembelajaran berbasis masyarakat dan keterampilan hidup.

ALAT DAN BAHAN
Kamera
Pulpen
Notes
Permen

ANALISIS DATA
Data yang kami peroleh melalui kegiatan observasi langsung di TK GETSEMANE. Data tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana proses “Manajemen Kelas” di TK GETSEMANE.
1.5 SAMPEL PENELITIAN DAN LOKASI PENGAMBILAN DATA
Sampel : Siswa dan Guru di TK GETSEMANE
Tempat : TK GETSEMANE  Jl. Jamin Ginting KM.9, Sumatera Utara

JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN
No.URAIANMARETAPRILDiskusi Pemilihan JudulPembuatan Surat IzinPemberian Surat Izin ke SekolahObservasiDiskusi Kelompok dan Pembahasan untuk Posting BlogPembuatan Resume Hasil Observasi dan Pengolahan DataPosting Blog
BAB 2 : PELAKSANAAN
2. 1 SISTEMATIS PELAKSANAAN OBSERVASI    
10 Maret 2017 :  Diskusi Pemilihan Judul
20 Maret 2017 :  Pembuatan Surat Izin
24 Maret 2017 :  Pemberian Surat Izin ke Sekolah
25 Maret 2017 :  Observasi
31 Maret 2017 :  Diskusi Kelompok dan Pembahasan untuk Posting Blog
4 April 2017 :  Pembuatan Resume Hasil Observasi dan Pengolahan Data
9 April 2017 :  Posting Blog



BAB 3 : LAPORAN DAN EVALUASI DATA
3.1 LAPORAN
1. Jadwal kegiatan (Sabtu,25 Maret 2017)
08.30-09.00 : Ibadah
09.00-09.30 : Duduk di teras kelas dan menyanyi bersama
09.30-10.00 : Merayakan Ulang Tahun teman satu kelas (dikarenakan pada saat kami mendatangi sekolah tersebut, salah seorang dari murid sedang merayakan ulang tahun sehingga proses pembelajaran mereka ditiadakan)    
10.00-10.45 : Berdoa dan Makan bersama    
10.45-11.00 : Foto bersama
11.00 : Pulang
11.00-12.00 : melakukan wawancara bersama kepala sekolah (dikarenakan proses pembelajaran ditiadakan, maka kami memutuskan untuk melakukan wawancara )
2. Sistematika Observasi
Kelompok tiba di TK GETSEMANE pada pukul 08.30 WIB. Saat itu mereka sedang melakukan ibadah.
Pukul 09.00-09.30 WIB, anak-anak duduk diteras dan diarahkan oleh guru-guru yang membimbing mereka. Kemudian kelompok dipersilahkan untuk melakukan perkenalan.



Pukul 09.30-10.00 WIB, merayakan ulang tahun salah seorang murid dan menyanyi bersama.


Pukul 10.45-11.00 WIB, melakukan sesi foto bersama guru dan murid.


Pukul 11.00-12.00 WIB, kelompok melakukan sesi wawancara bersama kepala sekolah Ibu Rolina.

Keadaan sekolah :
Terdiri dari 4 kelas.
Siswa dalam satu sekolah sebanyak 50 Siswa
Terdapat 7 pengajar
TK A berusia 5 tahun kebawah
TK B berusia 5 tahun keatas
Ruangan kelas kurang Playfull
Halaman sekolah banyak permainan
Tim pengajar sangat aktif dan rasa antusiasnya tinggi

Proses Pembelajaran (hasil diperoleh melalui wawancara) :
Proses pembelajaran dimulai dengan membaca, menghapal, berbahasa inggris, mengenal angka. Namun, pembelajaran tersebut tidak terlalu dipaksakan dan hanya sekedarnya saja. Jika murid-murid sudah mampu maka tim pengajar akan mendiskusikan murid yang bersangkutan untuk langsung dimasukkan ke SD. Proses pembelajaran untuk hari sabtu cenderung kepada pembelajaran agama dan ibadah. Pada hari-hari tertentu guru akan memberikan PR sebagai bahan latihan dirumah. PR tersebut harus dikerjakan sendiri oleh siswa dengan menggunakan kode-kode yang berbeda untuk setiap siswa, jika kodenya tidak sesuai maka guru akan mengetahui bahwa PR tidak dikerjakan oleh diri sendiri. Pada Tk A tidak ada pemaksaan dalam pembelajaran, namun untuk TK B memiliki kemampuan dasar untuk masuk SD sudah lebih dituntut. Terdapat beberapa anak dengan keterbelakangan mental, tetapi mereka berhasil belajar secara normal. Sebelum proses pembelajaran dimulai, antara guru dan orangtua akan membuat kesepakatan.
Metode Pembelajaran (hasil diperoleh melalui wawancara) :
Metode belajar sudah direncanakan terlebih dahulu oleh tim pengajar.
Materi semester 1 cenderung menggunakan lagu-lagu
Materi semester 2 sudah langsung diajarkan kepada murid.
Dikte (namun beberapa murid belum lancar dan belum cepat tanggap jika guru mendikte )
Dilakukan secara step-by-step
Memperbanyak cerita-cerita , interaksi terhadap murid, dan motivasi.
Guru menggunakan system Reward berupa benda kepada murid yang aktif
Menggunakan tema-tema dalam pembelajaran
Pada hari tertentu pembelajaran dilakukan Outdoor
Terdapat Punishment jika melakukan kesalahan
Untuk hari Sabtu, pembelajaran lebih kepada menggambar, origami, dan plastisin.

Perkembangan dan ciri-ciri pada anak di TK GETSEMANE :
Ciri Fisik : aktif, menyukai kegiatan yang dilakukan bersama, anak perempuan cenderung lebih berani berbicara di depan umum dibandingkan dengan anak laki-laki, ada yang sudah bisa berhitung dan membaca.
Ciri Sosial : anak-anak awalnya pendiam dan susah bersosialisasi, namun melalui pendekatan maka akan muncul sifat aslinya yaitu mudah berteman.
Ciri Emosional : termotivasi untuk tampil didepan dan menjadi pemberani ketika melihat temannya diberi Reward berupa sebuah permen
Ciri Kognitif : beberapa anak kuat dalam hal mengingat, anak usia 4 tahun lebih berani tampil didepan daripada anak-anak yang berusia 3 tahun.

Evaluasi
Kelompok berharap observasi ini dapat menjadi pembelajaran dan merupakan hal yang berguna untuk kedepannya. Menambah pemahaman dan wawasan terhadap pendidikan prasekolah. Praktik-praktik pendidikan prasekolah di Indonesia dapat berkembang lebih pesat lagi seiring perkembangan zaman. Selain itu, proses pendidikan dan pembelajaran pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan memberikan konsep-konsep dasar tentang kebermaknaan bagi anak melalui pengalaman nyata. Dan semoga praktik-praktik pendidikan prasekolah saat ini dapat mengindari bentuk pembelajaran yang hanya berorientasi pada guru dan menempatkan anak secara pasif.

Testimoni kelompok :
Reflita : observasi ini merupakan hal pertama yang saya lakukan selama saya menempuh pendidikan, ternyata hal ini menyenangkan.
Peby : observasi ini sangat menyenangkan dan teman-teman kelompok 9 bisa merealisasikan teori yang telah dipelajari dalam observasi terhadap pendidikan anak-anak TK.
Adi : senang bisa melakukan observasi ini, sehingga kita bisa langsung mengetahui bagaimana manajemen kelas pada pendidikan prasekolah.
Risma : gurunya yang humble membangun karakter percaya diri bagi anak-anak muridnya, jadi kami yang melakukan observasi merasa diterima dengan baik.
Wahyu Kurnia : tugas observasi ini merupakan suatu pebelajaran untuk menerapkan materi dan metode yang telah saya dapatkan sebelumnya.
Tribelawaty : baik guru dan siswa TK GETSEMANE memberikan respon yang baik terhadap observasi yang dilakukan.
Ucapan terima kasih :
Terima kasih kepada Ibu Roulina selaku kepala sekolah, tim pengajar, dan siswa-siswi TK GETSEMANE atas kesempatannya perihal observasi ini. Terima kasih kepada teman-teman kelompok atas kerjasamanya dan terima kasih Ibu Dosen pada mata kuliah Psikologi pendidikan, serta kepada semua yang telah membantu terlaksanakannya observasi ini.
Daftar Pustaka :
http://plpg.undiksha.ac.id/uploaded/content/Modul%20PAUD.pdf
Santrock, John W. Psikologi Pendidikan edisi kedua. Universitas of Texas  at Dallas. Kencana : Prenada Media Group.